Cirebon, 7 Agustus 2025 – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Cirebon menyelenggarakan serangkaian Focus Group Discussion (FGD) di tiga desa pesisir dalam rangka penelitian hibah Kemdikristek bertema “Integrasi Kearifan Lokal dalam Model Kebijakan Ekonomi Hijau: Transformasi Limbah Perikanan Menjadi Produk Ekonomis di Pesisir Cirebon”.
Kegiatan yang dipimpin oleh Dr. Hj. Erna, Dra., M.Si. sebagai ketua peneliti ini berlangsung selama satu bulan, dimulai di Desa Mertasinga (4 Juli), dilanjutkan di Desa Waruduwur (30 Juli), dan diakhiri di Desa Gebang Mekar (7 Agustus 2025). Setiap sesi FGD melibatkan 15 peserta dari berbagai kalangan termasuk pelaku usaha, pengupas rajungan, dan masyarakat setempat.






Tiga Lokasi, Permasalahan yang Beragam
Mertasinga: Mencari Solusi Limbah Rajungan
FGD di Kantor Kuwu Mertasinga menghadirkan Ir. H. Sudarto, S.Pi., M.Si., Kepala Dinas Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Wilayah Utara, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat. Diskusi mengungkap bahwa pengolahan cangkang rajungan masih menjadi tantangan bagi masyarakat setempat.
Sudarto menjelaskan berbagai regulasi pemerintah terkait pemanfaatan limbah produk perikanan, mulai dari UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan hingga PP No. 27 Tahun 2021 yang mengatur standar pengolahan hasil perikanan dengan prinsip ekonomi sirkular. Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi kendala teknis dan ekonomi.
Masyarakat Mertasinga mengakui bahwa limbah cangkang rajungan yang dihasilkan dari industri pengupasan belum dimanfaatkan secara optimal, meskipun berpotensi diolah menjadi produk bernilai ekonomi seperti kitosan, pupuk organik, atau bahan kerajinan.
Waruduwur: Kearifan Lokal yang Perlu Pengembangan
Diskusi di Kantor Desa Waruduwur pada 30 Juli 2025 dipandu narasumber Eka Razak Kurniawan, S.Pi., M.Han., Analis Mutu Hasil Perikanan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Cirebon. Pembahasan difokuskan pada produk ekonomi perikanan berbasis kearifan lokal.
Data menunjukkan produksi perikanan Kabupaten Cirebon tahun 2024 mencapai 184.310 ton, terdiri dari perikanan budidaya 43.773 ton, perikanan tangkap 37.660 ton, pengolahan perikanan 11.420 ton, dan pergaraman 91.457 ton. Komoditas utama meliputi rajungan, udang, ikan teri, kekerangan, ikan lele, ikan bandeng, garam, dan ikan nila.
Kurniawan memaparkan bahwa masyarakat Waruduwur memiliki tradisi pengolahan hasil perikanan turun-temurun seperti bekasam, terasi, petis, dan berbagai produk olahan lainnya. Namun, sebagian besar masih diproduksi dalam skala rumah tangga dengan keterbatasan teknologi dan akses pasar.
Gebang Mekar: Permasalahan Nyata di Lapangan
FGD terakhir di Desa Gebang Mekar mengangkat tema kebijakan ekonomi hijau dalam sektor perikanan. Narasumber dari Kepala Bidang Peningkatan Kapasitas & Pemulihan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cirebon, Alfian Rediana, S.STP, tidak dapat hadir sehingga digantikan oleh Kepala LPPM Untag Cirebon.
Diskusi mengungkap permasalahan konkret yang dihadapi masyarakat Gebang Mekar. Cangkang rajungan sebagian masih dibuang ke sungai atau dijual kepada pengepul dengan harga rendah karena kualitas yang tidak memenuhi standar pabrik. Proses pengeringan masih menggunakan cara konvensional dengan memanfaatkan sinar matahari, yang sangat bergantung pada cuaca.
Temuan dan Tantangan yang Dihadapi
Potensi yang Belum Termanfaatkan
Ketiga FGD mengungkap bahwa limbah cangkang rajungan yang dihasilkan industri pengupasan di pesisir Cirebon cukup signifikan, namun pemanfaatannya masih terbatas. Cangkang rajungan mengandung kalsium karbonat (40-50%) dan kitin (15-25%) yang sebenarnya dapat diolah menjadi kitosan untuk industri kosmetik, tepung pakan ternak, atau pupuk organik.
Keterbatasan Teknologi dan Modal
Masyarakat di ketiga lokasi menghadapi kendala serupa: keterbatasan teknologi pengolahan, minimnya modal usaha, dan kurangnya pengetahuan tentang standarisasi produk. Sebagian besar usaha masih bersifat tradisional dengan peralatan sederhana.
Akses Pasar yang Terbatas
Harga jual cangkang rajungan yang rendah mencerminkan belum optimalnya rantai nilai produk. Banyak produk tidak memenuhi standar industri sehingga sulit menembus pasar yang lebih luas.






Temuan Kearifan Lokal
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, setiap desa memiliki potensi kearifan lokal yang dapat dikembangkan:
- Mertasinga: Tradisi pengupasan rajungan yang telah diwariskan turun-temurun
- Waruduwur: Keragaman teknik pengolahan hasil laut secara tradisional
- Gebang Mekar: Upaya kreatif dalam menangani limbah meskipun masih terbatas
Rekomendasi yang Muncul
Berdasarkan diskusi di ketiga lokasi, beberapa kebutuhan mendesak yang teridentifikasi:
Pendampingan Teknis
- Transfer teknologi pengeringan dan pengolahan yang lebih efisien
- Pelatihan standarisasi dan pengemasan produk
- Bimbingan manajemen usaha dan akses permodalan
Pengembangan Produk
- Pemanfaatan cangkang rajungan untuk produk bernilai tambah seperti kitosan dan tepung pakan
- Diversifikasi produk olahan tradisional dengan kemasan modern
- Pengembangan produk turunan garam untuk industri wellness
Kemitraan dan Jejaring
- Membangun koneksi dengan industri pengolah yang membutuhkan bahan baku berkualitas
- Mengembangkan kemitraan dengan lembaga penelitian untuk transfer teknologi
- Memperkuat organisasi kelompok usaha untuk meningkatkan daya tawar
Perspektif Kebijakan Ekonomi Hijau
Pembahasan tentang ekonomi hijau mengungkap bahwa konsep ini masih relatif baru bagi masyarakat pesisir. Namun, praktik-praktik tradisional yang sudah ada sebenarnya sejalan dengan prinsip-prinsip ekonomi hijau, seperti pemanfaatan limbah dan penggunaan bahan alami.
Implementasi ekonomi hijau di sektor perikanan memerlukan pendekatan yang realistis, mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir dan ketersediaan sumber daya teknologi.
Langkah Lanjutan Penelitian
Tim peneliti akan melanjutkan analisis data untuk mengembangkan model kebijakan yang sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Dr. Erna menyampaikan bahwa model kebijakan yang akan dihasilkan harus mempertimbangkan keterbatasan yang ada sambil memanfaatkan potensi kearifan lokal.
“Hasil FGD menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi hijau di pesisir memerlukan pendekatan yang bertahap dan realistis. Kami akan merumuskan rekomendasi kebijakan yang dapat diimplementasikan dengan mempertimbangkan kondisi aktual masyarakat,” ungkap Dr. Erna.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan kebijakan yang lebih kontekstual untuk mendukung ekonomi pesisir yang berkelanjutan, dengan tetap menghargai dan melestarikan kearifan lokal yang ada.



